1 Analisis Pengaruh Visualisasi Iklan TV Djarum 76 Seri “Jin”

January 8, 2018 | Author: Anonymous | Category: Seni & Humaniora, Communications, Iklan
Share Embed Donate


Short Description

Download 1 Analisis Pengaruh Visualisasi Iklan TV Djarum 76 Seri “Jin”...

Description

Analisis Pengaruh Visualisasi Iklan TV Djarum 76 Seri “Jin” Terhadap Citra Djarum 76 pada Mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual STIKOM Surabaya Afrizal Novian Baharsyah Program Studi S1 DKV STIKOM Surabaya. Email: [email protected] ABSTRAK

Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menguasai pasar adalah menciptakan sebuah citra dalam benak konsumen melalui media periklanan. Djarum 76 merupakan salah satu merk rokok kretek tanpa filter dari PT Djarum yang sejak tahun 1999 mulai melakukan kampanye peremajaan konsumennya. Positioning dari Djarum 76 sendiri adalah Akrab, tetap membumi atau bersahaja, kreatif dan tidak ketinggalan jaman (Palupi & Pambudi, 2006). Hal inilah yang pada akhirnya diteruskan pada seri iklan “Jin” pada tahun 2009. Sesuai dengan perumusan masalah, penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh visualisasi iklan TV Djarum 76 seri “Jin” terhadap citra Djarum 76 pada Mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual STIKOM Surabaya. Populasi dalam penelitian ini adalah 120 mahasiswa aktif Jurusan Desain Komunikasi Visual STIKOM Surabaya yang telah menempuh semester 5 dan pernah menonton iklan Djarum 76 seri “Jin” maupun video iklan Djarum 76 seri “Jin” di youtube. Besar sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 36 mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual STIKOM Surabaya. Data penelitian ini merupakan data primer, yaitu merupakan data yang diperoleh secara langsung dari responden melalui kuesioner. Analisis dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif untuk mengetahui bagaimana citra yang dibentuk oleh iklan TV Djarum 76 seri “Jin”.

Kata Kunci: Iklan TV, Simbol Personalitas, Citra Produk

Semakin

tingkat

kompetisi dalam merebut minat masyarakat

produk

harus menjadi sebuah perhatian bagi para pelaku

menyebabkan setiap perusahaan harus dapat

bisnis. Persaingan ini tidak terbatas pada satu

memberikan suatu strategi yang berbeda dari

produk sejenis, namun sudah pada tingkat

perusahaan lain agar mampu meraih minat para

persaingan produk serupa dengan segmentasi

konsumen. Dalam persaingan pasar, produk-

yang sama. Hal inilah yang pada akhirnya akan

persaingan

produk

baru

perusahaan

terus

tingginya dan

bermunculan

sehingga

1

Periklanan dapat dilakukan melalui

menjadi penentu bagi sebuah produk apakah

media cetak seperti koran, majalah dan brosur

mampu bertahan atau tidak. Salah satu cara yang dapat digunakan

serta tenaga penjual yang telah terlatih dengan

untuk menguasai pasar adalah menciptakan

baik. Iklan melalui media televisi (TV) juga

sebuah citra dalam benak konsumen melalui

merupakan salah satu cara atau alat yang dapat

media periklanan. Inilah yang harus dijadikan

dilakukan

sebagai positioning, menempatkan produk pada

memperkenalkan

pikiran calon konsumen (Al Ries, 2002:3).

dihasilkan kepada konsumen untuk membentuk

Dengan

citra suatu produk. Media TV mempunyai

menempatkan

produk

di

pikiran

oleh

perusahaan barang

atau

untuk

jasa

yang

konsumen maka perkembangan produk mutlak

keunggulan dalam

jangkauannya yang luas

meningkat dan mempunyai kekuatan yang

yang diserati unsur

bergerak signifikan.

mendukung pembentukan persepsi konsumen

hiburan yang sangat

berusaha

untuk

terhadap suatu produk yang nantinya dapat

dalam

benak

mengarah pada tindakan pertukaran yang dapat

konsumen. Mengelola citra produk adalah suatu

memuaskan berbagai pihak yang terlibat dalam

hal wajib dilakukan bagi perusahaan, sehingga

aktivitas pemasaran.

Perusahaan menciptakan

selalu

sebuah

citra

sebuah produk atau merk dapat tertanam secara

PT Djarum adalah sebuah perusahaan

mendalam di benak konsumen. Sebuah citra

rokok di Indonesia yang bermarkas di kudus,

diperlukan untuk dapat mendapatkan perhatian

Jawa Tengah dan dirikan pada tahun 1951 oleh

dari konsumen. Tanpa adanya citra yang sesuai

Oei Wie Gwan. PT Djarum merupakan salah

dengan target pasar, sulit untuk mendapatkan

satu

loyalitas dari target pasar produk tersebut. Iklan

terkemuka di Indonesi. Ada lebih dari 2.000

yang kuat dapat menjadi aspek vital bagi

merk rokok kretek, yang diproduksi oleh

perusahaan mendapatkan persepsi kualitas yang

sebanyak 500 perusahaan yang berbeda di

lebih bagus dan loyalitas pelanggan yang lebih

Indonesia, namun hanya sebagian kecil yang

besar.

mendekati

dari

tiga

produsen

kepopuleran

rokok

PT

"kretek"

Djarum

2

ini

bersahaja, kreatif dan tidak ketinggalan jaman

memiliki berbagai merk kretek untuk pasar

(Palupi & Pambudi, 2006). Hal inilah yang pada

domestik, termasuk Djarum Super, laris merk,

akhirnya diteruskan pada seri iklan “Jin” pada

Djarum Coklat, Djarum 76, LA Lights, dan

tahun 2009.

(www.fundinguniverse.com).

Perusahaan

Iklan Djarum 76 tersebut berusaha

lainnya. Djarum 76 merupakan salah satu merk

memberikan suatu doktrin merk atau penanaman

rokok kretek tanpa filter dari PT Djarum.

persepsi terhadap para konsumen bahwa rokok

Dikenalkan pada tahun 1976. Djarum 76 dengan

tersebut juga cocok untuk para anak muda.

cepat mendapatkan tempat di hati penikmat

Proses

rokok di Indonesia, terutama di Jawa Timur,

minimal 90 hari atau satu tahun untuk dapat

Jawa Tengah dan Bali (www.djarum.com).

tertanam kuat dalam masyarakat (Knapp, 2000).

Rokok ini dijual dalam dua varian kemasan,

Dalam hal ini, Djarum 76 sudah melakukannya

yaitu kemasan 12 batang dan 16 batang.

selama lebih dari 12 tahun. Proses kampanye

Djarum 76 merupakan produk yang

panjang

doktrin

ini

merk

sendiri

dilakukan baru

untuk

memerlukan

menjaring

telah lama mengusung iklan-iklan dengan

konsumen-konsumen

sehingga

umur

mengambil tema anak muda. Sejak tahun 1999,

produk untuk menghasilkan profit lebih panjang.

kampanye

Merk adalah nama atau simbol yang

peremajaan konsumennya. Hal ini terlihat dari

diasosiasikan dengan produk atau jasa dan

penggunaan ikon pemuda dan mobil VW Combi

menimbulkan arti psikologis atau asosiasi

yang erat digunakan sejak dimulainya seri

(Susanto & Wijanarko, 2004). Susanto dan

“Wisata”. Iklan ini menurut Palupi & Pambudi

Wijanarko (2004) juga mengemukakan bahwa

(2006),

hebat karena setelah tujuh tahun

sesungguhnya pelanggan membeli merk. Hal ini

terbukti mampu mengubah citra Djarum 76

karena merk bukan hanya apa yang tercetak di

menjadi lebih segar dan muda, karena banyak

dalam produk atau kemasan, tetapi termasuk apa

dilirik perokok muda. Positioning dari Djarum

yang ada dalam benak para konsumen dan

76 sendiri adalah Akrab, tetap membumi atau

bagaimana konsumen mengasosiasikannya.

Djarum

76

mulai

melakukan

3

Loyalitas konsumen juga terbentuk dari

TUJUAN Tujuan dari penelitian ini adalah untuk

seberapa besar produk tersebut dapat mewakili dirinya dan gagasan-gagasan yang dimilikinya.

mengetahui pengaruh visualisasi iklan TV

Visual

Djarum 76 seri “Jin” terhadap citra Djarum 76

(DKV), khususnya di STIKOM Surabaya,

pada Mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi

mengharuskan mahasiswanya untuk mampu

Visual STIKOM Surabaya.

Jurusan

Desain

Komunikasi

menciptakan ide untuk sebuah komunikasi pemasaran tentang suatu produk atau jasa.

KAJIAN PUSTAKA

Karena

Iklan

itu,

pemahaman

akan

komunikasi

periklanan menjadi sebuah keahlian yang harus

Definisi iklan

dimiliki agar mampu belajar dari iklan-iklan

Menurut Kotler (Simamora, 2001) iklan

yang telah ada dan juga membuat ide-ide baru

adalah segala bentuk presentasi dan promosi

yang dapat diterapkan pada produk lain.

non-personal suatu produk yang dibayar dan

Kemampuan untuk memahami esensi sebuah

disponsori oleh sponsor yang jelas. Stanton

iklan mulai dipelajari pada semester 5, dimana

(Simamora, 2001) juga mengemukakan definisi

mahasiswa DKV,

yang hampir sama, bahwa iklan terdiri dari

khususnya di

STIKOM

Surabaya, mulai belajar tentang teori periklanan,

segala

kegiatan

metodologi desain dan lain-lain.

mempresentasikan

yang sesuatu

dilibatkan kepada

dalam audiens

diatas,

secara non-personal, dengan sponsor yang jelas.

peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

Simamora (2001) menarik kesimpulan bahwa

tentang ”Analisis Pengaruh Visualisasi Iklan TV

ada empat karakteristik iklan, yaitu:

Berdasarkan

latar

belakang

Djarum 76 Seri “Jin” Terhadap Citra Djarum 76 pada Mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual STIKOM Surabaya.

a. Pesan bersifat verbal, dapat didengar ataupun visual, dapat dilihat. b. Sponsor dapat diidentifikasi. c. Diluncurkan

melalui

satu

atau

beberapa media.

4

d. Sponsor

membayar

media

yang

Periklanan TV Iklan dapat diterapkan kedalam berbagai

menampilkan iklan tersebut. Iklan sendiri dibagi menjadi tiga, yaitu

media. Salah satunya adalah dengan media TV.

iklan komersial, non-komersial dan corporate

Sejarah periklanan TV dimulai pada tahun 1947

(Madjadikara, 2004). Iklan komersial adalah

yang

iklan yang bertujuan mendukung kampanye

memperbaiki keterbatasan iklan cetak dan iklan

pemasaran suatu produk atau jasa. Iklan non-

radio (Suyanto, 2005). The Ed Sullivan Show,

komersial didefinisikan sebagai iklan yang

sebuah program yang ditayangkan oleh stasiun

bertujuan

yang

TV CBS pada Juni 1948 menjadi pemacu

bertujuan untuk menghimbau atau mengajak

ramainya periklanan melalui TV. Acara ini

masyarakat

tidak

adalah acara dengan jam tayang terpanjang dan

melakukan sesuatu (Iklan Layanan Masyarakat).

merupakan serial tersukses di Amerika Serikat

Sedangkan iklan corporate hampir sama dengan

dimana didalamnya

iklan komersial, namun iklan jenis ini lebih

sponsorship dengan Lincoln-Mercury. Pada

memfokuskan pada pembangunan citra sebuah

tahun 1949, Departemen Perdagangan Amerika

perusahaan yang pada akhirnya diharapkan akan

Serikat

membangun citra produk atau jasa yang

melalui TV. Hal ini dikarenakan TV merupakan

ditawarkan perusahaan tersebut.

kombinasi dari gambar bergerak, suara dan

untuk

kepentingan

untuk

melakukan

umum

atau

berupa

iklan

sponsorship

terdapat

mengemukakan

yang

sebuah iklan

besarnya

penjualan

untuk

kesegaran sehingga menjadi daya tarik sendiri

menyampaikan pesan didalamnya. Penyampaian

bagi para calon konsumen (Suyanto, 2005). TV

iklan dapat dilakukan melalui media cetak

sendiri baru masuk di Indonesia sejak bulan

(koran, majalah, brosur, spanduk, dll.), media

Agustus 1962 (PPPI).

Iklan

membutuhkan

media

elektronik (televisi, radio, internet, dll.) dan juga

Saat ini iklan TV menjadi salah satu

dapat

primadona dunia periklanan di Indonesia. Hal ini

diciptakan berdasarkan kreativitas pembuat iklan

dibuktikan dari riset yang dilakukan Nielsen

(Madjadikara, 2004).

pada tahun 2009 yang menunjukkan belanja

media-media

alternatif

lain

yang

5

iklan melalui media TV mencapai 27,16 trilliun

memasukkan kepribadian kedalam produk atau

Rupiah (Tabel B.2). TV memiliki jaringan yang

jasa, untuk kemudian dimasukkan dalam alam

luas,

suatu

bawah sadar konsumen. Figur-figur, alur cerita,

komunikasi pemasaran secara langsung kepada

simbol-simbol, ritual, dan pelajaran-pelajaran

masyarakat banyak. Media ini memiliki sifat

moral merupakan elemen-elemen yang dapat

yang cepat, jelas dan padat. Hal ini dikarenakan

digunakan

mahalnya biaya yang berdasarkan durasi.

membentuk sebuah citra (Wertime, 2003).

sehingga

mampu

memberikan

dan

dikombinasikan

untuk

Wertime (2003) menyatakan bahwa

Citra Produk Kotler (2000) menyatakan bahwa citra

citra

sangat

penting

untuk

membantu

atau image adalah kepercayaan ide dan impresi

membangun kesetiaan merk, baik lokal maupun

seseorang terhadap sesuatu. Citra tidak dapat

global.

dicetak seperti barang pada pabrik, akan tetapi

membentuk citra menjadi sesuatu yang penting

citra adalah kesan yang diperoleh sesuai dengan

untuk dapat menempatkan produk dalam pikiran

pengetahuan seseorang tentang sesuatu. Citra

konsumen. Wertime (2003) juga menyatakan

terbentuk dari bagaimana perusahaan atau

bahwa kesuksesan perusahaan di jaman sekarang

produk memaksimalkan kegiatan operasionalnya

bergantung pada aktivitas-aktivitas pemasaran

yang mempunyai landasan dari segi layanan.

yang dilakukan dengan menggunakan kekuatan

Penempatan

(positioning)

dalam

Image atau Citra juga didefinisikan

dari bintang iklan dan asosiasi-asosiasi citra

sebagai a picture of mind, yaitu suatu gambaran

yang lainnya. Kekuatan citra ini bersifat tahan

yang ada di dalam benak seseorang (Wikipedia,

lama.

2012). Citra produk (brand image) adalah

menumbuhkan sebuah loyalitas dari pelanggan,

sebuah aspek psikologis yang dibangun dalam

karena citra yang memikat, menghibur, dan

alam bawah sadar konsumen melalui informasi

menyediakan informasi kepada para konsumen.

Sehingga

pada

akhirnya

akan

dan ekspetasi yang diharapkan melalui sebuah

Dalam artikel Wikipedia tentang citra

proses komunikasi pemasaran yang dilakukan

(2012) disebutkan bahwa menurut Nimoeno,

(Soegoto,

proses psikodinamis yang berlangsung pada

2010).

Citra

dibangun

dengan

6

individu konsumen berkisar antara komponen-

3. Iluminas

komponen persepsi, kognisi, motivasi dan sikap

4. Verifikasi

konsumen terhadap sebuah produk. Komponen

Strategi visual ini merupakan sebuah

mental

proses sebelum iklan dibuat. Dalam membuat

Komponen-

iklan, ditentukan terlebih dahulu daya tarik iklan

komponen dalam citra sendiri dapat diuraikan

yang akan digunakan. Daya tarik dalam iklan

sebagai berikut:

mengacu pada pendekatan yang digunakan

a. Persepsi

untuk menarik perhatian konsumen terhadap

b. Kognisi

suatu produk atau jasa (Simamora , 2001). Suatu

c. Motif

daya tarik iklan menurut Moriarty (1991) juga

d. Sikap

dapat diartikan sebagai something that moves

tersebut

dapat

representation

diartikan dari

sebagai

stimulus.

Citra memiliki lima macam jenis. Frank Jefkins (1998) menyebutnya antara lain:

people, speaks to their wants or need, and excites their interest, yang berarti sesuatu yang

a. Mirror image (citra bayangan)

menggerakkan

b. Current image (citra yang berlaku

keinginan

c. Multiple image (citra majemuk

membangkitkan ketertarikan mereka. Adapun

d. Corporate image (citra perusahaan

jenis-jenis daya tarik dalam iklan adalah:

e. Wish image (citra yang diharapkan

atau

orang,

berbicara

kebutuhan

mengenai

mereka,

dan

1. Daya tarik informatif/rasional 2. Daya tarik emosional

Strategi Visual Strategi visual atau juga dapat disebut

3. Daya tarik gabungan 4. Daya tarik lainnya

sebagai strategi kreatif iklan menurut James

Penentuan daya tarik sebuah iklan

Webb Young dalam Morrisan (2010) adalah

nantinya akan menentukan eksekusi kreatif dari

sebuah proses yang meliputi:

iklan produk atau jasa. Dalam iklan Djarum 76

1. Keterlibatan diri (immersion),

seri “Jin”, daya tarik yang digunakan adalah

2. Proses inkubasi (incubation)

daya tarik emosional, yaitu daya tarik yang

7

terkait atau berhubungan dengan kebutuhan

dikarenakan kemampuan manusia

sosial

dalam

dalam melakukan persepsi (Masri,

pembelian suatu produk atau jasa (Schiffman,

2010). Unsur perseptual muncul

2010). Eksekusi kreatif dalam iklan seri “Jin”

ketika seseorang telah melakukan

adalah

pengamatan

dan

psikologis

dengan

personalitas,

konsumen

menggunakan

yaitu

dengan

simbol

menggunakan

pada

objek

visual,

kemudian di benaknya akan muncul

karakter sentral Jin untuk menjadi simbol dari

tafsir

“gambaran”

mengenai

rokok Djarum 76.

keberadaan unsur visual tadi. Yang

Dalam sebuah strategi visual, terdapat

termasuk dalam unsur perseptual

beberapa unsur yang membangun sebuah objek

meliputi harmoni atau keselarasan,

(Masri, 2010). Bersama-sama setiap unsur

kesatuan atau unity, keseimbangan,

membentuk sebuah komposisi.

intensitas, ukuran dan proporsi, irama, arah dan gerak. Keberadaan

a. Unsur Visual Penamaan unsur visual disampaikan

unsur-unsur

karena unsur-unsur ini tampil secara

menjadi tujuan dari pengolahan rupa

visual

pada

(Masri,

2010).

Beberapa

perseptual

bidang

desain.

Ketidak-

pendapat mengajukan nama seperti

tercapaian

unsur desain atau unsur teraba.

unsur perseptual inilah yang sering

Unsur visual terdiri dari titik, garis,

menimbulkan reaksi emosional yang

bidang, massa atau ruang, warna

negatif.

dan tekstur.

ini

perseptual

masing-masing

Perilaku Konsumen Engel et al., (1995:44) mendefinisikan

b. Unsur Perseptual Unsur

peran

sering

unsur

perilaku konsumen sebagai berikut: “... those

pertimbangan

acts of individuals directly involved in obtaining

dinamakan dengan

tersebut

and using economics goods and services,

dirasakan hadir pada sebuah objek

including the decision process and determined

bahwa

unsur-unsur

8

these

acts”,

yang

artinya

yaitu

Studi perilaku konsumen dipusatkan

perilaku

konsumen adalah tindakan secara langsung dari

pada

individu-individu

dan

mengambil keputusan untuk membelanjakan

menggunakan barang yang memiliki nilai

sejumlah sumber daya yang tersedia, meliputi

ekonomis dan juga jasa, yang mana meliputi

uang,

tindakan

menjelaskan masalah tersebut perlu diketahui:

dalam

pengambilan

memperoleh

keputusan

yang

pemahaman

waktu

dan

bagaimana

usaha

individu

(effort).

Untuk

a. Apa yang mereka beli

mendasari dan menentukan tindakan tersebut.

b. Mengapa mereka membeli

Loudon dan Bitta (1998:8) menerangkan bahwa perilaku konsumen adalah: “The decision

c. Kapan membelinya

process and physical activity individual change

d. Dimana mereka membeli

in evaluations, ecquaring, using, or disposing

e. Bagaimana cara mereka membeli

goods and service”, atau dapat diterjemahkan

f.

Bagaimana menggunakan batang yang dibelinya

sebagai proses pengambilan keputusan dan

Penelitian mengenai perilaku konsumen

tindakan fisik yang dilakukan oleh seorang individu

dalam

mengevaluasi,

menerima,

merupakan

cara

menggunakan atau memastikan suatu barang

mengungkapkan

atau jasa.

Karena

Sumarwan

(2011:5)

menyimpulkan

yang

tepat

untuk

masalah-masalah

diatas.

banyaknya

mempengaruhi

faktor-faktor

keputusan

yang

konsumen,

maka

bahwa definisi perilaku konsumen adalah semua

penelitian harus diarahkan pada faktor yang

kegiatan, tindakan, serta proses psikologis yang

mempengaruhi keputusan tersebut.

mendorong tindakan tersebut pada saat sebelum

Assael (1995:18) mengemukakan bahwa

membeli, ketika membeli, menggunakan, dan

respon konsumen sebagai variabel psikologis

juga menghabiskan produk dan jasa setelah

yang merupakan hasil reaksi atas stimulus sangat

melakukan kegiatan mengevaluasi yang dapat

dipengaruhi oleh stimulus-stimulus dari faktor

dipengaruhi oleh lingkungan.

internal

Lingkup perilaku konsumen

(lingkungan).

(individu)

dan

faktor

eksternal

9

Terdapat dua hal yang mempengaruhi

respon konsumen dalam bentuk data penjualan

keputusan konsumen dalam memilih produk

dan pangsa pasar.

atau jasa. Pertama adalah konsumen itu sendiri

Respon konsumen

dimana kebutuhan, persepsi, dan sikap mereka

Respon konsumen (consumer response)

terhadap suatu produk atau jasa yang merupakan

adalah tindakan konsumen sebagai akibat dari

pencerminan dari faktor usia (demografi), gaya

proses interaksi dalam tindakan konsumsi

hidup (lifestyle), dan karakteristik kepribadian

dimana dalam proses tersebut terjadi pertemuan

akan

mereka

antara atribut-atribut sosial psikologis dengan

terhadap suatu produk. Kedua adalah segala

atribut produk yang menghasilkan perasaan atau

sesuatu diluar konsumen (environment), baik

tindakan

budaya, norma, kelas sosial, serta orang-orang

konsumen

disekitar mereka, seperti keluarga, teman, atau

perilaku konsumen yang dipengaruhi oleh

juga kelompok-kelompok referensi. Organisasi

faktor-faktor

internal

dan kegiatan pemasaran kepada konsumen

mendorong

perilaku

sangat diperlukan untuk mempengaruhi pilihan

kecenderungan melakukan tindakan-tindakan

konsumen.

tertentu.

sangat

menentukan

pilihan

tertentu

(Assael,

merupakan

1195).

bagian

dan

Respon

dari

proses

eksternal

konsumen

yang pada

Ketika keputusan dibuat, terdapat dua

Sifat penting lain dari respon adalah

umpan balik, yaitu kepada konsumen itu sendiri

bahwa respon bersifat dinamis. Dengan kata

dan kepada pemasar. Umpan balik kepada

lain,

konsumen pengalaman

merupakan pembelian

kebanyakan

respon

akan

berubah

evaluasi

terhadap

bersamaan dengan waktu. Sifat dinamis dari

dimana

hal

respon sebagian besar terjadi karena perubahan

ini

menentukan apakah konsumen akan membeli

gaya hidup konsumen.

produk yang sama atau berpindah ke merk

Sikap konsumen

produk yang lain. Sedangkan umpan balik

Menurut Tricomponent Attitude Model

terhadap pemasar didapat dari data-data tentang

(Schiffman dan Kanuk, 2010; dan Engel, Blackwell, dan Miniard, 1995), sikap terdiri atas

10

tiga komponen: kognitif, afektif dan konatif

Komponen

(psikomotorik). Kognitif adalah pengetahuan

menggambarkan

dan persepsi konsumen (yang diperoleh melalui

persepsi terhadap suatu objek sikap.

pengalaman dengan suatu objek), sikap dan

kognitif

dari

sikap

pengetahuan

dan

b. Komponen afektif

informasi dari berbagai sumber. Pengetahuan

Afektif menggambarkan perasaan dan

dan persepsi ini biasanya berbentuk kepercayaan

emosi seseorang terhadap suatu produk

atau belief, yaitu konsumen mempercayai bahwa

atau merk. Perasaan dan emosi tersebut

produk memiliki sejumlah atribut. Kognitif juga

merupakan

sering

terhadap objek sikap (produk atau

disebut

sebagai

kepercayaan

konsumen.

menggambarkan konsumen,

pengetahuan

emosi

Schiffman

dan dan

dan

Afektif perasaan Kanuk

dari

(2010)

menyebutnya sebagai “As primarily evaluative in

nature”

yaitu

menunjukkan

penilaian

evaluasi

merk).

Afektif

penilaian

konsumen

menyeluruh

mengungkapkan kepada

suatu

produk apakah baik atau buruk, disukai atau tidak disukai. c. Komponen konatif

langsung dan umum terhadap suatu produk,

Konatif adalah komponen ketiga dari

apakah produk itu disukai atau tidak, apakah

sikap

produk

kecenderungan dari seseorang untuk

itu

baik

menunjukkan

atau

tindakan

buruk.

Konatif

seseorang

atau

yang

melakukan

menggambarkan

tindakan

tertentu

yang

kecenderungan perilaku terhadap suatu objek

berkaitan dengan objek sikap (produk

(Engel, Blackwell, dan Miniard, 1995), konatif

atau merk).

berkaitan dengan tindakan atau perilaku yang akan

dilakukan

oleh

seorang

konsumen

(likehood or tendency) dan sering juga disebut sebagai intention. a. Komponen kognitif

METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan model deskriptif dengan menggunakan

survey.

Tujuan

penggunaan

survey yaitu:

11

1. Untuk memperoleh fakta dari gejala yang

Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual STIKOM

ada. 2. Melakukan evaluasi serta perbandingan terhadap

iklan

TV

yang

dilakukan

Surabaya yang pernah menonton iklan Djarum 76 seri “Jin” maupun video iklan Djarum 76 seri

kompetitor dalam hal menjaga citra dan

“Jin” di youtube.

positioning.

Sampel

3. Dilakukan

terhadap

sample

yang

populasi yang memberikan keterangan atau data

ditentukan. Penelitian terbatas

hanya

Sedangkan sampel adalah bagian dari

survey pada

dilakukan

tidak

pengumpulan

dan

untuk suatu penelitian yang terdiri dari nilai/ skor/ukuran

peubah-peubah

yang

bersifat

penyusunan data, tetapi meliputi analisis dan

terbatas jumlahnya (Abadi, 2006). Sampel

interpretasi data tersebut. Selain itu semua yang

penelitian

dikumpulkan dapat menjadi kunci dari apa yang

Jurusan Desain Komunikasi Visual STIKOM

diteliti.

Surabaya yang pernah menyaksikan/mengetahui

ini

adalah

sebagian

Mahasiswa

iklan Djarum 76 seri “Jin” maupun video iklan Populasi dan Sampel

Djarum 76 seri “Jin” di youtube. Pengambilan

Populasi

sampel penelitian berdasarkan pada pendekatan

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang

rumus Slovin (Umar, 1997: 68), yaitu sebagai berikut :

n

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu

N 1 Ne2

yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari

Dalam hal ini :

dan kemudian ditarik kesimpulan, jadi populasi

n

=

sampel

bukan hanya orang, tetapi meliputi seluruh

N

=

Populasi

karakteristik atau subyek yang dipelajari, tetapi

e

=

prosentasi kelonggaran

meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang

yang dapat ditolerir.

dimiliki oleh subyek itu (Sugiyono, 2005).

12

individu-individu

n=

populasinya.

120 1 120 (6)2

yang

Alasan

mengerti

peneliti

tentang

menggunakan

Purposive sampling adalah karena peneliti

n = 36 orang

memiliki kriteria tertentu yang dipertimbangkan

Dari perhitungan tersebut, maka besar

untuk mewakili seluruh sampel. Adapun kriteria

sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 36

sampel dalam penelitian ini adalah pernah

Mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual

melihat iklan TV Djarum 76 seri “Jin” dan

STIKOM

merupakan

Surabaya

dan

pernah

menyaksikan/mengetahui iklan iklan Djarum 76

Mahasiswa

Jurusan

Desain

Komunikasi Visual STIKOM Surabaya.

seri “Jin”. Jenis Data

Teknik pengambilan sampel metode

Data yang digunakan dalam penelitian

penarikan sampel yang dilakukan menggunakan

ini adalah data primer. Data primer merupakan

pemilihan sampel dari populasi secara tidak acak

sumber data penelitian yang diperoleh secara

(Non

langsung dari sumber asli (tidak melalui

Didalam

penelitian

Probability

ini,

Sampling)

dengan

pertimbangan bahwa ukuran populasi tidak diketahui

secara

mempermudah digunakan

pasti,

maka

perantara), (Indriantoro dan Supomo, 2002).

untuk

dalam

penarikan

sampel

Teknik Pengumpulan Data

Purposive

Sampling.

Metode

Pengumpulan

data

yang

dilakukan

Purposive Sampling yaitu penentuan sampel

dalam penelitian ini melalui kuesioner, yaitu

dengan pertimbangan tertentu sesuai dengan

teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan

tujuan penelitian (Sugiyono, 2005). Purposive

cara memberi seperangkat pertanyaan atau

Sampling digunakan karena peneliti memandang

pernyataan tertulis kepada responden untuk

bahwa individu- individu tertentu saja yang

dijawabnya

dapat mewakili (Representative) karena mereka

diberikan kepada sebagian Mahasiswa Jurusan

yang dipilih untuk dijadikan tersebut adalah

Desain Komunikasi Visual STIKOM Surabaya

(Sugiyono,

2005).

Kuesioner

13

yang pernah menyaksikan/mengetahui iklan TV

dalam iklan tersebut, yaitu figur, alur cerita dan

Djarum 76 seri “Jin”.

simbol-simbol yang terdapat didalamnya. Variabel terikatnya adalah citra produk

Teknik Analisis Data

atau brand image dari Djarum 76. Kotler (2000)

Metode analisis data yang digunakan

menyatakan bahwa citra atau image adalah

dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif

kepercayaan ide dan impresi seseorang terhadap

kuantitatif. Dimana metode ini dimaksudkan

sesuatu.

untuk melihat apakah ada pengaruh iklan TV Djarum 76 seri “Jin” terhadap citra produk

Variabel Penelitian

Djarum 76 pada Mahasiswa Jurusan Desain

Variabel independen dalam penelitian

Komunikasi Visual STIKOM Surabaya dengan

ini adalah analisis citra produk Djarum 76 pada

cara menyebarkan kuesioner.

Mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual STIKOM Surabaya dan variabel dependen

Definisi Konseptual Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, karena dapat menyimpulkan hasil

adalah visualisasi iklan Djarum 76 seri “Jin”. Pengukuran variabel penelitian Pengukuran

variabel

berupa

ini

penelitian menggunakan angka. Penelitian ini

menggunakan

terdiri dari satu variabel bebas dan satu variabel

dengan jenis pertanyaan terbuka dan tertutup

terikat. Variabel bebas (independent variabel)

tentang variabel-variabel yang digunakan dalam

yang ditandai dengan simbol X dan variabel

penelitian

terikat (dependent variabel) yang ditandai

tersebut dijabarkan didalam 15 pertanyaan yang

dengan simbol Y. Variabel bebas dalam

kemudian diajukan pada responden.

penelitian ini adalah iklan TV Djarum 76 seri

Indikator variabel penelitian

ini.

instrumen

penelitian

Selanjutnya

kuesioner

variabel-varabel

“Jin”. Dalam iklan TV terdapat beberapa unsur

Indikator yang digunakan untuk mengukur

yang digunakan untuk menyampaikan pesan

citra Djarum 76 pada Mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual STIKOM Surabaya adalah

14

para mahasiswa aktif yang telah menempuh

disajikan. Hal ini berarti penggunaan karakter

semester 5, yakni angkatan 2009, 2010, dan

sentral “Jin” telah mampu mewakili karakter

2011, yang pernah menonton iklan TV Djarum

Djarum 76, dimana merakyat sama dengan tetap

76 seri “Jin”, baik di televisi maupun media

membumi, kritis mewakili sifat kreatif dan tidak

internet.

ketinggalan jaman (peka). Sifat akrab juga tampak,

KESIMPULAN DAN HASIL PENELITIAN

ditunjukkan

dengan

banyaknya

responden yang merasakan kesan kesederhanaan

desktritif

dan banyaknya responden yang menganggap

menunjukkan bahwa banyak responden yang

bahwa karakter sentral “Jin” lucu. Kelucuan

menyukai dan merasa tertarik pada iklan TV

merupakan bagian dari sisi humoris yang banyak

Djarum 76 seri “Jin” karena pesan yang

disukai oleh responden dari tokoh Jin yang

disampaikan dalam iklan tersebut. Penggunaan

disajikan, dimana sifat humoris merupakan

karakter sentral “Jin” juga diminati karena

bagian dari keakraban dalam pergaulan.

Berdasarkan

analisis

karakter sederhana, humoris, dan sifat kritis

Secara keseluruhan, di akhir pertanyaan

yang dimiliki oleh tokoh Jin tersebut. Hal ini

responden diberi pertanyaan tentang kesan yang

menandakan bahwa pemilihan konsep visual

menurut mereka tampak pada iklan TV Djarum

yang dilakukan oleh Djarum 76 untuk menarik

76 seri “Jin”. Kesederhanaan, kritis, keakraban,

konsumen-konsumen baru dapat dibilang sudah

kritis, humor, gengsi menjadi kesan yang

tepat.

didapat oleh banyak responden tentang iklan Begitupun citra yang ditimbulkan oleh

tersebut. Hal ini menandakan bahwa keinginan

iklan tersebut, dimana citra yang ingin dibentuk

PT Djarum untuk menanaman citra akrab, tetap

dalam Djarum 76 sendiri adalah akrab, tetap

membumi atau bersahaja, kreatif dan tidak

membumi atau bersahaja, kreatif dan tidak

ketinggalan jaman pada produk Djarum 76

ketinggalan jaman (Palupi & Pambudi, 2006).

melalui iklan TV Djarum 76 seri “Jin” telah

Banyak responden mendapat kesan merakyat,

berhasil.

kritis dan jujur pada simbol personalitas yang

15

SARAN Berdasarkan selanjutnya

dapat

kesimpulan diusulkan

saran

diatas, yang

Belch, George E. & Michael A. Belch. (2001). Advertising and Promotion: An Integrated Marketing Communication Perspectives, Fifth Edition. New York: Irwin/Graw Hill.

diharapkan akan bermanfaat bagi :

1. Pihak promosi perusahaan hendaknya tetap mempertahankan unsur-unsur yang ada dalam iklan TV Djarum 76 seri “Jin” karena telah berhasil menanamkan citra yang diharapkan kepada para konsumen/calon konsumen.

2. Perusahaan

diharapkan

dapat

Engel, James, Roger D. Blackwell & Paul W. Miniard. (1995). Consumer Behaviour, Eight Edition. Forth Worth, Texas: The Dryden Press. Indonesia, A. N. (2011, February 1). Belanja Iklan Televisi. Diakses pada 26 Maret 2012, dari www.acnielsen.co.id: http://www.acnielsen.co.id/news/Releas e010211.shtml Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo. (2002). Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen. Yogyakarta: BPFE.

mengambil berbagai strategi pemasaran lain yang relevan untuk memperkuat citra yang telah ditanamkan melalui

Jefkins, F. (1998). Public Relations: Edisi ke 5. Jakarta: Erlangga. Knapp, D. A. (2000). The Brand Mindset. Yogyakarta: ANDI Offset.

iklan TV Djarum 76 seri “Jin”.

3. Penelitian memperluas

selanjutnya populasi

dan

untuk sampel

penelitian pada segmen masyarakat lain,

Lutfi. (2004). IPA Kimia Jilid 2. Jakarta: Erlangga. Loudon, David L and Della Bitta. (1998). Consumer Behaviour: Concept and Application, Third Edition. Japan: McGraw Hill Book Company.

dengan maksud untuk memperkuat hasil penelitian yang telah peneliti lakukan.

DAFTAR PUSTAKA Abadi, A. A. (2006). Problematika Penentuan Sampel dalam Penelitian. Dimensi Teknik Arsitektur , 140. Assael, Henry. (1995). Consumer Behaviour and Marketing Action, Fourth Edition. Boston: PSW-Kent.

Madjadikara, A. S. (2004). Bagaimana Biro Iklan Memproduksi Iklan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Masri, Andry. (2010). Strategi Visual: Bermain dengan Formalistik dan Semiotik untuk Menghasilkan Kualitas Visual dalam Desain. Yogyakarta: Jalasutra. Moriarty, Sandra E. (1991). Creative Advertising: Theory and Practice, Second Edition. New Jersey: Englewood Cliffs.

16

Morissan, M. A. (2010). Periklanan: Komunikasi Pemasaran Terpadu. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Nasution, P. D. (2004). Metode Research. Jakarta: Bumi Aksara. Nasution, S. S. (2011). Analisis Pengaruh Iklan TV Rokok A Mild Terhadap Keputusan Pembelian Pada Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi UMSU Medan. Medan: Universitas Sumatera Utara. Nazir., M. (2003). Metode Penelitian. Jakarta: PT. Ghalia Indonesia. Palupi, D. H., & Pambudi, T. S. (2006). Advertising That Sells. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. PPPI. (n.d.). P3I. Retrieved Mei 21, 2012, from http://www.p3i-pusat.com: http://www.p3i-pusat.com/tentangp3i/kilas-balik Prasetyo, B., & Jannah, M. L. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Puspasari, Y. (2009, Februari 04). Surabaya Post Online. Diakses pada 10 April 2009, dari http://www.surabayapost.co.id: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=be rita&act=view&id=f6d1ecd13a24f8caf9 c014e14dda156d&jenis=6c8349cc7260a e62e3b1396831a8398f Rangkuti, F. (2002). The Power of Brands. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Schiffman, L. G. & L. L. Kanuk. (2010). Consumer Behaviour, Seventh Edition. New Jersey: Prentice Hall.

Soegoto, E. S. (2010). Entrpreneurship: Menjadi Pebisnis Ulung. Jakarta: Elex Media Komputindo. Sugiyono. (2005). Metodologi Penelitian Bisnis. Bandung: CV. Alfabeta. Sumarwan, Ujang. (2011). Perilaku Konsumen: Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Bogor: Ghalia Indonesia. Susanto, A. B., & Wijanarko, H. (2004). Power Branding: Membangun Merk Unggul dan Organisasi Pendukungnya. Jakarta: PT Mizan Publika. Suyanto, M. (2005). Strategi Perancangan Iklan Televisi Top Dunia. Yogyakarta: ANDI Offset. Umar, H. (1997). Metode Riset Perilaku Konsumen Jasa. Jakarta: Ghalia Indonesia Unilever. (2011). www.unilever.co.id. Diakses pada 14 November 2011, dari www.unilever.co.id: http://www.unilever.co.id/id/brands/foo dbrands/Walls/ Wertime, K. (2003). Building Brands & Believers: Membangun Merk dan Pengikutnya. Jakarta: Erlangga. Wikipedia. (2012, Mei 11). Citra dalam Hubungan Masyarakat. Diakses pada 21 Mei 2012, dari www.wikipedia.org: http://id.wikipedia.org/wiki/Citra_%28H ubungan_Masyarakat%29 Wikipedia. (2012, April 18). Rokok. Diakses pada 21 Mei 2012, dari www.wikipedia.org: http://id.wikipedia.org/wiki/Rokok

Simamora, B. (2001). Memenangkan Pasar dengan Pemasaran. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Singarimbun, Masri dan Sofyan Effendi. (1989). Metode Penelitian Survei, Edisi Kedua. Jakarta: LP3ES.

17

View more...

Comments

Copyright � 2017 NANOPDF Inc.
SUPPORT NANOPDF